berita

Peluang Bisnis Kesehatan Indonesia Diperkirakan Capai 840 Miliar Dolar AS

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan bahwa nilai total pengeluaran kesehatan di Indonesia dapat mencapai 840 miliar dolar AS setiap tahunnya. Proyeksi ini akan terwujud jika Indonesia dapat mencapai tingkat belanja kesehatan yang setara dengan Singapura.

Saat ini, pengeluaran kesehatan nasional diperkirakan mencapai sekitar 40 miliar dolar AS per tahun, dengan rata-rata pengeluaran per kapita berkisar antara 120 hingga 130 dolar AS.

Angka harapan hidup masyarakat Indonesia saat ini berada pada angka sekitar 72 tahun, yang menunjukkan adanya potensi dalam sektor kesehatan.

Budi Gunadi menekankan bahwa besarnya peluang ini seharusnya dimanfaatkan oleh Kamar Dagang dan Industri (Kadin) untuk berinvestasi di sektor kesehatan Indonesia. Pernyataan ini disampaikan dalam acara Economic & Diplomacy Breakfast yang berlangsung di kantor Kementerian Kesehatan, Setiabudi, Jakarta, pada Jumat (9/10/2026).

Menteri Kesehatan berpendapat bahwa jika dalam lima tahun ke depan Indonesia dapat menyamai pengeluaran kesehatan Malaysia, yang berada di kisaran 300 dolar AS per kapita, maka belanja kesehatan nasional berpotensi meningkat menjadi 84 miliar dolar AS per tahun.

Namun, jika Indonesia berhasil menyamakan pengeluaran kesehatan dengan Singapura, yang saat ini mencapai sekitar 3.000 dolar AS per kapita, maka potensi belanja kesehatan di Indonesia secara matematis dapat melesat mencapai 840 miliar dolar AS per tahun.

Proyeksi ini didasarkan pada asumsi populasi Indonesia yang mencapai 280 juta jiwa, dan bukan merupakan jaminan bahwa belanja tersebut akan terwujud.

Lebih lanjut, Menteri Kesehatan mengungkapkan bahwa besarnya pangsa pasar kesehatan di Indonesia harus dimanfaatkan untuk menarik investasi asing, memperkuat sektor manufaktur alat kesehatan, serta menciptakan lapangan kerja baru.

Dalam 10 tahun terakhir, pengeluaran kesehatan di Indonesia tumbuh dengan laju 9-11 persen per tahun, tetapi manfaat ekonominya belum sepenuhnya dirasakan karena banyak kebutuhan kesehatan yang masih bergantung pada impor.

Sebagian besar pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) dan penciptaan lapangan kerja tidak terjadi di dalam negeri, mengingat banyaknya barang yang dibutuhkan yang masih diimpor dari luar negeri, ungkap Menkes.

Di sisi lain, Budi Gunadi juga menceritakan pengalaman pribadi mengenai ibunya yang mengalami stroke pada usia 65 tahun di Bogor.

Pada saat itu, keluarganya terpaksa mencari rumah sakit di Jakarta karena fasilitas CT scan yang memadai tidak tersedia di Bogor.

Proses untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan memakan waktu sekitar enam jam sejak gejala pertama stroke muncul. Ibunya kemudian harus hidup dengan keterbatasan fisik selama 14 tahun sebelum meninggal pada usia 79 tahun.

Related Articles

Back to top button
kpkgg