berita

Anggota Majelis Ahli Iran Ungkap Fakta Penting Pengangkatan Mojtaba Khamenei

Mojtaba Khamenei secara resmi ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi Iran, menggantikan Ayatollah Ali Khamenei yang meninggal dunia akibat serangan militer yang dilakukan oleh Israel dan Amerika Serikat pada akhir Februari lalu. Pengangkatan ini menandai sebuah perubahan signifikan dalam kepemimpinan negara tersebut.

Enam bulan setelah penunjukan ini, salah seorang anggota Majelis Ahli Iran, Mohsen Heydari, mengungkapkan beberapa fakta mengejutkan terkait dengan proses pemilihan Mojtaba Khamenei yang kini berusia 57 tahun. Informasi ini memberikan gambaran baru tentang dinamika di balik layar dalam pemilihan pemimpin tertinggi Iran.

Dalam wawancara yang disiarkan oleh televisi Al Araby dari Qatar, Heydari menyatakan bahwa Mojtaba Khamenei sendiri tidak mengetahui bahwa ia telah terpilih sebagai pemimpin tertinggi Iran yang baru hingga pengumuman tersebut disiarkan secara langsung oleh televisi pemerintah pada tanggal 8 Maret. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai transparansi dan prosedur dalam proses pemilihan tersebut.

Meskipun demikian, setelah keputusan tersebut diambil, Heydari menjelaskan bahwa Mojtaba terikat secara hukum dan agama untuk menerima tanggung jawab sebagai pemimpin tertinggi. Ini menunjukkan bahwa meskipun ada ketidakpastian awal, ada kewajiban yang harus dipenuhi oleh Mojtaba sebagai pemimpin baru.

Majelis Ahli, yang memiliki wewenang untuk memilih pemimpin tertinggi Iran, juga mengalami tekanan dari pihak luar, termasuk serangan dari AS dan Israel. Sekretariat Majelis Ahli di Qom menjadi sasaran pemboman yang mengakibatkan delapan orang tewas dan menghancurkan dokumen penting yang berkaitan dengan calon pemimpin tertinggi baru.

Dalam konteks situasi yang menegangkan tersebut, para anggota Majelis Ahli diminta untuk menuliskan pilihan mereka di atas kertas sebelum dimasukkan ke dalam sebuah ruangan yang dirahasiakan. Mereka tidak diberi informasi sebelumnya mengenai lokasi atau agenda pertemuan itu, yang berlangsung sekitar seminggu setelah serangan pertama.

Heydari merupakan orang pertama yang mengajukan nama Mojtaba dalam pertemuan tersebut, meskipun langkah ini bertentangan dengan peringatan dari Presiden AS Donald Trump, yang sebelumnya meminta Iran untuk tidak memilih putra mendiang Khamenei. Menariknya, Mojtaba dilaporkan memiliki pandangan yang lebih keras dibandingkan dengan ayahnya.

“Mengingat posisi musuh, kami tidak akan memilih dan mengangkat siapa pun sebagai pemimpin dan pembimbing tertinggi Republik Islam selain Ayatollah Mojtaba Khamenei. Kami mendapatkan informasi bahwa Mojtaba Khamenei dalam kondisi sehat dan mampu memimpin. Kami menilai dia memenuhi syarat dalam hal kualifikasi keagamaan, keadilan, serta kemampuan untuk mengelola negara,” ujar Heydari, mengingat kembali pernyataannya dalam pertemuan tersebut.

Dalam pemungutan suara yang berlangsung, Mojtaba Khamenei berhasil mendapatkan 50 dari 59 suara. Sementara itu, delapan anggota memilih untuk mendukung Ayatollah Alireza Arafi, dan satu anggota lainnya memilih untuk abstain. Hasil ini mencerminkan dukungan yang signifikan terhadap Mojtaba dalam proses pemilihan pemimpin tertinggi.

Related Articles

Back to top button
slot qris depo 10k