Gibran Hadapi Isu Pemakzulan, Namun Elektabilitas Wapres Stabil, Ini Faktor Kunci Survei

Jakarta – Meskipun Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka kerap menjadi sasaran isu mengenai ijazah, pemakzulan, dan kritik, elektabilitasnya tetap stabil di lima besar dalam berbagai survei yang dilakukan oleh sejumlah lembaga.
Dalam menghadapi dinamika ini, Adi Prayitno, seorang pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, mengungkapkan beberapa faktor kunci yang memengaruhi elektabilitas Gibran.
Menurutnya, posisi Gibran yang selalu berada di jajaran teratas dalam survei tidak lepas dari tingkat popularitasnya yang telah menyentuh banyak lapisan masyarakat Indonesia.
Dalam beberapa hasil survei, nama Gibran tercatat berada di bawah Prabowo Subianto, Dedi Mulyadi, dan Anies Baswedan, namun ia berhasil mengungguli sejumlah tokoh nasional lainnya seperti Ganjar Pranowo dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
“Popularitas Mas Wapres sangat signifikan, mencapai lebih dari 90 persen. Sementara yang lainnya berkisar antara 70 hingga 80 persen, sehingga tidak merata pengetahuan publik tentang mereka,” ungkap Adi pada Rabu (21/10/2026).
Adi menggarisbawahi bahwa tingkat pengenalan publik adalah salah satu elemen penting dalam hasil survei elektabilitas, terutama ketika masyarakat diminta untuk menyebut nama calon presiden secara spontan.
Figur yang sudah dikenal luas akan lebih mudah diingat oleh responden dibandingkan dengan tokoh politik lain yang popularitasnya belum merata.
Kondisi ini menjadi salah satu alasan mengapa nama Gibran tetap tercatat dalam jajaran teratas survei, meskipun ia terus menghadapi kritik dari berbagai pihak.
Adi mengakui bahwa serangan terhadap Gibran terlihat lebih intens dibandingkan dengan figur politik lainnya.
Namun, menurutnya, situasi ini bukanlah sesuatu yang baru dalam dunia politik.
“Serangan yang tertuju pada Gibran memang terlihat lebih terfokus, dan itu bukanlah hal yang mengejutkan. Sejak pencalonannya di 2024, serangan tersebut terus menerus terjadi,” jelasnya.
Di sisi lain, Adi juga mengingatkan bahwa tingginya popularitas tidak selalu sejalan dengan tingkat keterpilihan dalam survei.
Walaupun pengenalan terhadap Gibran sudah melebihi 90 persen, ia menekankan bahwa angka elektabilitas yang diperoleh masih menunjukkan tantangan dalam mengkonversi popularitas tersebut menjadi dukungan politik yang sebenarnya.
“Oleh karena itu, wajar jika Wapres Gibran masuk dalam lima besar. Namun, jika dilihat dari tingginya popularitas, posisi lima besar ini menunjukkan bahwa tidak semua yang mengenal Wapres berpindah menjadi pemilihnya,” jelas Adi.




