berita

Kementerian Luar Negeri Bahas Nasib Dua Kapal Tanker Pertamina yang Tersandera di Selat Hormuz

Jakarta – Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) menegaskan bahwa mereka terus berupaya melakukan komunikasi dan dialog dengan pihak berwenang Iran untuk memastikan keselamatan dua kapal tanker Pertamina yang saat ini terjebak di Selat Hormuz. Situasi yang tegang antara Iran dan Amerika Serikat-Israel menjadi latar belakang tantangan ini.

Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kemlu RI, Santo Darmosumarto, menjelaskan bahwa kondisi geopolitik di kawasan tersebut masih tidak stabil, sehingga diperlukan peningkatan komunikasi dan koordinasi dengan pemerintah Iran. Hal ini menjadi langkah penting dalam menjaga keamanan kapal tanker Pertamina yang terpengaruh oleh konflik yang berkepanjangan.

“Terkait situasi kapal tanker Pertamina, rekan-rekan di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Teheran sedang melakukan langkah-langkah yang diperlukan, karena dialog harus dilakukan dengan pihak berwenang di Iran,” papar Santo dalam sesi taklimat media di Jakarta baru-baru ini.

Upaya diplomasi dan koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan di Iran terus dilakukan untuk memastikan bahwa kepentingan Pertamina di Selat Hormuz tetap terlindungi, meskipun situasi konflik semakin memanas. Santo menekankan pentingnya menjaga keamanan dan keselamatan kapal-kapal tersebut di tengah ketegangan yang ada.

Dirjen Santo juga menekankan bahwa semua langkah yang diambil bertujuan untuk memastikan bahwa kapal tanker Pertamina yang terjebak dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman dan tanpa hambatan. Ini menjadi prioritas utama bagi Kemlu RI.

Ia juga menambahkan bahwa dinamika konflik di Timur Tengah dapat membawa dampak yang signifikan bagi Indonesia, mengingat negara-negara di kawasan tersebut merupakan mitra dagang yang penting bagi perekonomian nasional.

Sehubungan dengan itu, Kemlu RI tidak hanya meningkatkan upaya perlindungan bagi Warga Negara Indonesia (WNI) di kawasan tersebut, tetapi juga memperkuat komunikasi dengan berbagai pihak untuk mengevaluasi dan mencari solusi terhadap potensi dampak dari konflik yang terjadi di Timur Tengah terhadap Indonesia.

Pada tanggal 4 Maret, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa pemerintah sedang melakukan negosiasi untuk membebaskan dua kapal tanker yang dimiliki oleh PT Pertamina International Shipping (PIS) yang saat ini terjebak di Selat Hormuz.

“Ada dua kargo yang terjebak di Selat Hormuz, milik Pertamina. Saat ini kapal-kapal tersebut sedang bersandar untuk mencari tempat yang lebih aman sambil kami melakukan negosiasi,” ujar Bahlil setelah acara buka puasa bersama di Kementerian ESDM, Jakarta, pada Rabu malam, 4 Maret 2026.

Bahlil juga menegaskan bahwa keberadaan dua kapal tanker tersebut tidak akan mengganggu ketahanan energi Indonesia, karena pemerintah dengan cepat mencari alternatif pasokan energi dari Amerika Serikat. Ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjaga stabilitas energi nasional meskipun ada tantangan yang dihadapi.

Related Articles

Back to top button
slot depo qris slot qris