berita

FOMO Dapat Memicu Krisis Iklim yang Semakin Mengkhawatirkan

Budaya konsumsi berlebih yang semakin marak saat ini telah memberikan dampak signifikan terhadap krisis iklim yang kita hadapi. Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap masalah ini adalah fenomena Fear of Missing Out (FOMO), yang semakin berkembang melalui berbagai konten di media sosial.

Dalam upaya memahami hubungan antara fenomena ini dan dampaknya, Yayasan Partisipasi Muda (YPM) melakukan kerjasama dengan Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia. Mereka menyelenggarakan seminar dan workshop bertajuk “From FOMO to Overconsumption: Ketika Tren Jadi Toxic Buat Bumi” di Kampus UI.

Dalam seminar tersebut, sejumlah pembicara dengan beragam latar belakang berbagi wawasan. Muhammad Imam, seorang akademisi dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia, menyampaikan bahwa fenomena ini dapat diatasi melalui penerapan kebijakan yang tegas untuk melawan krisis iklim. Ia menekankan pentingnya peran aktif generasi muda sebagai agen perubahan.

“Generasi muda harus terlibat langsung dalam proses kebijakan, bukan sekadar menjadi pengamat, tetapi juga sebagai pelaku perubahan,” ungkap Imam dalam seminar yang berlangsung pada 25 April 2026.

Dari perspektif pemerintah, Adam Faza Gimnastiar, Humas Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, menjelaskan bahwa pendekatan pengelolaan lingkungan harus bergeser dari metode reaktif menjadi pendekatan pencegahan berbasis Konsumsi dan Produksi Berkelanjutan (SCP).

Ia mengakui bahwa peran pemerintah sangat penting dan luas dalam hal ini.

“Pemerintah berfungsi sebagai regulator, fasilitator, dan katalisator untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat,” jelasnya.

Dari sudut pandang dunia usaha, Ariq Gilang Narendra, Asisten Manajer Sustainability & External Affairs di sebuah perusahaan FMCG, menegaskan bahwa keberlanjutan tidak dapat dicapai secara parsial. Ia berpendapat bahwa sektor bisnis harus sejalan dengan kebijakan publik dan memerlukan kolaborasi lintas sektor.

“Penerapan SCP harus dilakukan di seluruh rantai nilai bisnis,” tegasnya.

Menarik kesimpulan dari materi yang disampaikan para pembicara, Neildeva Despendya, Co-Founder & Direktur Eksekutif Yayasan Partisipasi Muda (YPM), menyoroti dampak perubahan iklim terhadap generasi muda, termasuk meningkatnya risiko eco-anxiety.

Ia percaya bahwa masih ada ketidakselarasan antara kebijakan pemerintah dan kebutuhan generasi muda yang perlu dijembatani.

“Masih terdapat kesenjangan antara kebijakan pemerintah dan kebutuhan nyata generasi muda yang perlu diatasi melalui partisipasi yang bermakna,” ujarnya.

Related Articles

Back to top button
slot qris depo 10k