berita

Pulung Agustanto: Pemuda Menganggur Terjebak dalam Kebijakan yang Tidak Tepat

Jakarta – Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa tingkat pengangguran terbuka (TPT) di kalangan pemuda menyentuh angka 17,37 persen, yang jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata TPT nasional yang hanya 4,65 persen. Angka ini mencerminkan masalah serius di pasar kerja Indonesia, di mana semakin banyak generasi muda yang memasuki dunia kerja namun tidak mendapatkan peluang yang memadai untuk memperoleh pekerjaan.

Pulung Agustanto, anggota Komisi IX DPR RI, berpendapat bahwa situasi tersebut tidak bisa hanya dilihat dari sudut pandang kemampuan atau keinginan generasi muda untuk bekerja. Menurutnya, ada masalah struktural dalam kebijakan ketenagakerjaan, pendidikan, dan pengembangan industri yang perlu dievaluasi secara menyeluruh.

“Setiap tahun, jumlah angkatan kerja kita terus meningkat. Namun, lapangan pekerjaan yang tersedia tidak sebanding,” ungkap Pulung dalam pernyataannya pada Jumat, 4 September 2026.

Ironisnya, di tengah kondisi ini, banyak pelaku industri yang mengeluhkan kesulitan dalam menemukan tenaga kerja yang memiliki keterampilan sesuai dengan yang mereka butuhkan.

Pulung menyoroti adanya paradoks dalam pasar kerja Indonesia. Di satu sisi, terdapat jutaan pemuda yang mendambakan pekerjaan, sementara di sisi lain, dunia usaha mengeluhkan kurangnya tenaga kerja terampil.

“Ini adalah tanda bahaya yang serius. Kita memiliki banyak pemuda yang membutuhkan pekerjaan, sedangkan industri mengeluhkan kekurangan tenaga terampil. Ini menunjukkan ada masalah besar dalam menjembatani pendidikan, keterampilan, dan kebutuhan industri,” tegasnya.

Salah satu masalah klasik yang hingga kini belum terpecahkan adalah ketidaksesuaian antara sistem pendidikan dengan permintaan di dunia kerja.

Ia berpendapat bahwa kebijakan pendidikan dan pembangunan industri seolah berjalan di jalur yang tidak saling berkaitan. Akibatnya, lulusan pendidikan nasional sering kali tidak memiliki kompetensi yang relevan saat memasuki dunia kerja.

“Pendidikan dan kebijakan industri tampak seperti dua entitas yang terpisah. Yang menjadi korban adalah generasi muda kita, akibat ego sektoral yang tidak kunjung selesai,” tambahnya.

Pulung menekankan pentingnya untuk tidak selalu menyalahkan individu ketika membahas masalah pengangguran di kalangan anak muda. Dalam banyak diskusi tentang pasar kerja, seringkali anak muda dijadikan sasaran kritik karena dianggap tidak mampu mengikuti perkembangan zaman, kurang keterampilan, atau tidak mau beradaptasi dengan kebutuhan industri.

“Anak-anak muda kita dibentuk dalam sistem pendidikan nasional yang dirancang oleh pemerintah. Jika setelah lulus mereka kesulitan mendapatkan pekerjaan, jangan langsung menyalahkan mereka,” ujarnya.

Related Articles

Back to top button
slot qris depo 10k