Harga Minyak Dunia Melonjak Setelah Ultimatum Trump kepada Iran Terkait Selat Hormuz

Harga minyak dunia kembali mengalami lonjakan signifikan setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan ultimatum tegas kepada Iran untuk segera membuka Selat Hormuz. Pengumuman ini, yang terjadi pada Minggu, 5 April 2026, menyebabkan perhatian global tertuju pada kenaikan harga energi yang sudah mulai dirasakan di berbagai negara, bahkan berdampak pada harga bahan pangan.
Dalam perdagangan malam itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berhasil menembus harga US$114 per barel, setara dengan sekitar Rp 1,94 juta, berdasarkan estimasi kurs Rp 17.040 per dolar AS. Sementara itu, minyak Brent juga mencatatkan penguatan sebesar 1,3 persen, dengan harga mencapai US$110,47, atau sekitar Rp 1,88 juta per barel.
Lonjakan harga ini dipicu oleh pernyataan Trump yang mengancam Iran dengan konsekuensi serius jika mereka tidak membuka jalur strategis tersebut. Melalui unggahan di media sosial, Trump memberikan peringatan tegas bahwa Iran akan “hidup di neraka” jika tetap menutup Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital bagi distribusi energi global.
Trump menyebutkan waktu tertentu sebagai batas untuk Iran agar membuka Selat Hormuz, yang telah ditutup sejak akhir Februari 2026. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia ke pasar internasional, dengan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati rute ini.
Dalam ancamannya, Trump juga menyatakan niatnya untuk menyerang fasilitas penting di Iran, seperti pembangkit listrik dan jembatan. Dalam pidatonya pada Rabu, 1 April 2026, Trump menyampaikan bahwa jika konflik berlanjut, kemungkinan akan berlangsung selama dua hingga tiga minggu ke depan.
Penutupan Selat Hormuz ini telah memicu gangguan pasokan minyak yang mungkin paling besar dalam sejarah. Sejak dimulainya konflik, harga minyak mentah, bahan bakar jet, diesel, dan bensin telah mengalami lonjakan yang tajam.
Menurut perkiraan dari TD Securities, hampir 1 miliar barel pasokan energi diprediksi akan hilang hingga akhir bulan ini. Angka tersebut mencakup sekitar 600 juta barel minyak mentah dan 350 juta barel produk olahan.
“Melihat konflik yang kemungkinan akan berlangsung setidaknya hingga pertengahan April, proyeksi pasokan semakin memburuk,” ungkap Ryan McKay, analis senior komoditas dari TD Securities.
Sementara itu, Rapidan Energy memperkirakan total kehilangan pasokan bersih bisa mencapai 630 juta barel hingga akhir Juni 2026. Perkiraan ini sudah mempertimbangkan pengalihan jalur distribusi, pelepasan cadangan darurat, serta penarikan stok yang ada.




