Dampak Perang Iran vs AS dan Israel Terhadap Keberhasilan Ekonomi China

Perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang dimulai pada 28 Februari 2026 telah memberikan dampak signifikan terhadap distribusi minyak dan gas alam di kawasan Selat Hormuz.
Kondisi ini telah menimbulkan kepanikan di kalangan pemerintah negara-negara Asia Tenggara, yang berusaha keras untuk memastikan pasokan energi yang memadai bagi sektor industri, penerbangan, serta kebutuhan rumah tangga. Di tengah situasi ini, China berupaya mengubah tantangan tersebut menjadi peluang untuk memperkuat posisinya di kawasan.
“China siap untuk meningkatkan koordinasi dan kerja sama dengan negara-negara Asia Tenggara dalam upaya mengatasi masalah keamanan energi yang ada,” ungkap Lin Jian, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, sebagaimana dilansir dari DW pada 31 Maret 2026.
Berbagai langkah penghematan energi dan pemberian subsidi telah diambil oleh negara-negara di Asia Tenggara, yang juga berupaya mencari pemasok alternatif dan jalur perdagangan baru untuk mengatasi krisis ini.
Bahkan negara-negara penghasil minyak seperti Malaysia dan Brunei Darussalam tetap menghadapi risiko inflasi dan gangguan dalam rantai pasok, yang mengancam kestabilan ekonomi mereka di tengah situasi yang tidak menentu ini.
Filipina, pada 24 Maret 2026, menetapkan status darurat energi nasional selama satu tahun. Hal ini dilakukan sebagai respons terhadap ancaman nyata terhadap pasokan energi yang dapat membahayakan stabilitas ekonomi negara tersebut.
Pemerintah Manila juga telah menerapkan sistem kerja selama empat hari untuk instansi pemerintah serta membatasi penggunaan energi. Selain itu, mereka memberikan bantuan tunai kepada pekerja di sektor transportasi, dengan peringatan bahwa kekurangan bahan bakar pesawat dapat mengakibatkan beberapa armada tidak beroperasi.
Vietnam pun tidak tinggal diam, menggunakan dana stabilisasi harga energi untuk menghadapi situasi ini. Mereka juga meminta maskapai penerbangan untuk bersiap menghadapi pemangkasan operasional, di mana para importir menginformasikan bahwa pasokan avtur hanya dapat bertahan hingga Maret 2026.
Sementara itu, Indonesia berkomitmen untuk mengurangi dampak ketidakpastian ini melalui anggaran negara dan peningkatan subsidi. Thailand juga tengah mempertimbangkan penyaluran bantuan tambahan seiring dengan lonjakan harga solar yang berpengaruh pada sektor-sektor seperti perikanan. Malaysia ikut menambah subsidi untuk menjaga agar harga bahan bakar tetap terkendali.
Di tengah semua ketegangan ini, negara-negara di Asia Tenggara aktif mencari pasokan energi alternatif dari luar kawasan Teluk. Menurut laporan Reuters, diperkirakan bahwa Asia akan mengimpor volume terbesar dari bahan bakar Rusia pada Maret 2026, dengan Asia Tenggara menjadi penerima utama.
Pada saat yang sama, China berusaha memanfaatkan krisis energi ini untuk menunjukkan diri sebagai aktor yang stabil dan bertanggung jawab. Negara tersebut menyerukan de-eskalasi di Timur Tengah dan berjanji untuk bekerja sama dengan negara-negara Asia Tenggara dalam menghadapi masalah kekurangan energi yang melanda kawasan tersebut.




