Neraca Dagang RI Januari 2026 Catat Surplus Mencapai US$0,95 Miliar

Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa neraca dagang Indonesia pada bulan Januari 2026 berhasil mencatat surplus sebesar US$0,95 miliar. Pencapaian ini menandai 69 bulan berturut-turut surplus untuk negeri ini, yang dimulai sejak Mei 2021.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa surplus yang tercatat sebesar US$0,95 miliar tersebut didorong oleh total ekspor yang mencapai US$22,16 miliar, sementara nilai impor mencapai US$21,20 miliar.
“Beberapa komoditas yang berkontribusi terhadap surplus di sektor non-migas antara lain adalah lemak dan minyak hewan nabati, bahan bakar mineral, serta produk besi dan baja,” ungkap Ateng dalam sesi telekonferensi pers yang berlangsung pada Senin, 2 Maret 2026.
Ateng juga menambahkan bahwa nilai ekspor produk nasional pada Januari 2026 mengalami kenaikan sebesar 3,39 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, sedangkan impor mengalami lonjakan yang cukup signifikan yaitu sebesar 18,21 persen.
Lebih lanjut, Ateng menyampaikan bahwa peningkatan nilai ekspor didorong oleh sektor non-migas, di mana ekspor dari industri pengolahan menjadi penyokong utama.
Khususnya, ekspor dari sektor industri pengolahan meningkat sebesar 8,19 persen secara tahunan dan memberikan kontribusi sebesar 6,54 persen terhadap total nilai ekspor.
Di sisi lain, Ateng menjelaskan bahwa impor juga mengalami peningkatan tahunan, di mana komponen non-migas menjadi salah satu faktor pendorong utama pertumbuhan ini.
“Impor non-migas memberikan kontribusi sebesar 14,4 persen dari total keseluruhan nilai impor,” jelasnya.
Dengan terus berlanjutnya surplus neraca dagang, perhatian kini tertuju pada bagaimana Indonesia dapat mempertahankan tren positif ini ke depannya, terutama dalam konteks dinamika ekonomi global yang terus berubah.


