Syekh Ahmad Al Misry Tegaskan Tak Melakukan Pelecehan, Pengakuan Korban Mengguncang Publik

Kasus dugaan pelecehan seksual yang melibatkan Syekh Ahmad Al Misry kembali mengundang perhatian publik. Meskipun insiden ini dikabarkan terjadi sejak tahun 2017 dan sempat viral pada tahun 2021, sejumlah fakta baru yang diungkap oleh perwakilan korban telah mengguncang masyarakat.
Ustaz Abi Makki, yang mewakili para korban, mengungkapkan bahwa pelaku sebelumnya telah melalui proses internal dan bahkan meminta maaf di depan para guru. Mari kita telusuri lebih lanjut mengenai pernyataan ini.
“Dia meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya. Namun, setelah itu tidak ada perkembangan lebih lanjut,” jelas Ustaz Abi Makki dalam sebuah tayangan video yang dipublikasikan pada Kamis, 16 April 2026.
Akan tetapi, kasus ini tampaknya tidak sepenuhnya mereda. Dugaan pelanggaran kembali muncul setelah Oki Setiana Dewi melakukan wawancara dengan salah satu korban dan menyampaikan hasil temuannya kepada pihak berwenang.
“Ustazah Oki langsung menghubungi kami dan menjelaskan, ‘ternyata dia belum sembuh’,” ungkap Ustaz Abi Makki.
Berdasarkan data yang terkumpul, terdapat setidaknya lima korban laki-laki yang merupakan santri dengan kemampuan hafalan Alquran minimal 10 juz. Mereka diduga menjadi sasaran dengan pola yang hampir serupa.
Iming-iming beasiswa menjadi pintu masuk bagi para korban.
Menurut keterangan Abi Makki, awalnya pelaku menawarkan kesempatan belajar di luar negeri, terutama ke Mesir—sebuah impian bagi banyak santri.
“Pelaku menyampaikan, ‘Mau tidak belajar di Mesir?’ Bagi santri, tentu ini adalah harapan, terutama jika bisa mendapatkan sanad dari hafiz Quran hingga Rasulullah. Ini menjadi sebuah kebanggaan,” kata Ustaz Abi Makki.
Namun, harapan tersebut berubah menjadi trauma ketika para korban menyadari adanya tindakan yang tidak semestinya.
“Ketika peristiwa itu terjadi, mereka merasa terkejut. ‘Mengapa seorang panutan melakukan hal seperti ini?'”, ujar Abi yang akrab disapa.
Yang lebih memprihatinkan adalah pelaku disebut-sebut menggunakan dalil agama untuk meredam protes dari para korban.
“(Ucap Syekh Ahmad Al Misry kepada korban) ‘Rasulullah pun melakukan hal ini dengan Ali bin Abi Thalib’,” ucap Ustaz Abi Makki sambil menahan air mata.
“(Pernyataan) itu sangat sulit bagi kami untuk terima,” tambahnya.
Kisah yang menyentuh ini menunjukkan betapa rumitnya isu pelecehan seksual, terutama ketika melibatkan figur publik yang memiliki pengaruh besar di masyarakat. Seiring dengan perkembangan kasus ini, masyarakat diharapkan dapat lebih kritis dan peka terhadap isu-isu seperti ini.
Kepedulian terhadap korban sangatlah penting. Kita perlu mendengarkan suara mereka dan memastikan bahwa mereka mendapatkan dukungan yang diperlukan untuk memulihkan diri dari trauma yang dialami.
Dalam konteks ini, pendidikan mengenai pelecehan seksual dan perlindungan terhadap anak perlu diperkuat.
Salah satu langkah yang dapat diambil adalah dengan mengedukasi masyarakat tentang batasan yang sehat dalam hubungan antara pengajar dan murid.
Kita juga perlu menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung bagi para korban untuk berbicara tanpa rasa takut akan stigma atau konsekuensi sosial.
Penting bagi lembaga pendidikan untuk memiliki kebijakan yang jelas dan tegas mengenai pelecehan seksual, serta menyediakan saluran untuk melaporkan pelanggaran dengan aman.
Sebagai masyarakat, kita memiliki tanggung jawab untuk mendukung korban dan menuntut keadilan. Kasus ini adalah pengingat bahwa pelecehan seksual dapat terjadi di mana saja, bahkan di tempat yang seharusnya menjadi ruang aman bagi anak-anak dan remaja.
Dengan berani berbicara tentang isu ini, kita dapat membantu menciptakan perubahan yang positif dan mencegah terulangnya kasus serupa di masa depan.
Keberanian para korban untuk bersuara harus diapresiasi dan didukung. Mereka bukan hanya berjuang untuk diri mereka sendiri, tetapi juga untuk masa depan generasi yang akan datang.
Masyarakat perlu bersatu untuk memastikan bahwa tindakan pelecehan seksual tidak lagi ditoleransi dan bahwa pelaku dapat dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya.
Dengan demikian, kita semua memiliki peran dalam membangun lingkungan yang lebih aman dan lebih baik bagi anak-anak dan remaja di seluruh Indonesia.




