Istri Dede Sunandar Marah Mertua Campur Tangan dalam Masalah Rumah Tangga dan KDRT

Rumah tangga komedian Dede Sunandar dan istrinya, Karen Hertatum, belakangan ini menarik perhatian publik. Dalam sebuah wawancara, Karen akhirnya mengungkapkan berbagai permasalahan yang selama ini ia simpan, termasuk dugaan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan konflik yang terjadi dengan keluarga suaminya yang dinilai telah terlalu ikut campur dalam urusan pribadi mereka.
Karen menceritakan bahwa keputusannya untuk meninggalkan rumah mertua menjadi titik balik penting ketika emosinya sudah tidak bisa lagi ditahan. Ia merasa tidak mendapatkan dukungan yang seharusnya dari Dede di tengah ketegangan yang terjadi di lingkungan rumah tersebut. Dengan perasaannya yang semakin tertekan, ia pun mengungkapkan keinginannya untuk berbagi lebih lanjut.
Meskipun Karen berusaha untuk bertahan demi anak-anak, situasi di rumah mertua semakin sulit. Ia merasa diperlakukan secara tidak adil dan tidak mendapatkan perlindungan yang seharusnya dari Dede, terutama setelah tinggal bersama ibu Dede Sunandar sejak akhir tahun lalu.
“Kecewa jelas ada, terutama saat tinggal di rumah ibunya. Perlakuan yang saya terima tidak baik, dan saya berharap Dede bisa membela serta melindungi saya,” ungkap Karen dalam tayangan youtube yang diunggah pada Kamis, 12 Mei 2026.
Menurutnya, situasi di rumah mertua semakin memburuk karena campur tangan dari anggota keluarga Dede. Ia bahkan merasa seperti “dikeroyok” saat terjadi pertengkaran besar di dalam rumah tersebut, yang membuatnya merasa semakin tertekan.
“Di rumah itu, saya merasa dikeroyok oleh abang Dede, ibunya, dan Dede sendiri. Pertengkaran itu sangat mengganggu,” ceritanya.
Karen menggambarkan momen tersebut sebagai salah satu pengalaman yang paling menyakitkan selama menjalani kehidupan pernikahannya. Ia merasakan bahwa suaminya tidak ada di sisinya ketika konflik memuncak, seakan Dede lebih memilih untuk membela ibunya daripada mendengarkan keluh kesahnya.
“Dede membela ibunya yang seolah-olah selalu benar di mata mereka. Itu benar-benar menjadi puncak dari semua masalah,” tutur Karen sembari menahan emosi yang menggebu.
Lebih jauh, Karen juga berbagi pengalaman pahit lain, yakni perlakuan kasar dari ibu mertuanya. Ia mencatat bahwa tindakan tersebut bahkan terjadi di depan anak-anak mereka, yang membuat situasi semakin parah.
“Ibunya sudah dua kali memukul saya, Kak. Pertama, dia mencubit pipi saya, dan kedua, dia seperti meninju saya,” jelasnya dengan tegas.
Karen mengungkapkan bahwa perlakuan tersebut semakin memperburuk kondisi mentalnya. Ia merasa sudah terlalu lama memendam masalah ini sendiri tanpa berani untuk menceritakannya kepada keluarganya yang lain.
Di tengah semua ini, Karen berharap ada kesadaran dan perhatian dari Dede untuk menyelesaikan masalah ini. Ia ingin agar suaminya dapat melihat betapa seriusnya situasi yang mereka hadapi, terutama dalam konteks KDRT yang dapat merusak tidak hanya hubungan mereka, tetapi juga masa depan anak-anak mereka.
Dengan berani angkat bicara, Karen menunjukkan bahwa penting untuk menyuarakan ketidakadilan dalam hubungan pernikahan. Menghadapi KDRT bukanlah hal yang mudah, apalagi jika melibatkan pihak ketiga yang turut campur dalam urusan rumah tangga.
Dalam situasi seperti ini, dukungan dari pasangan sangatlah krusial. Karen berharap Dede bisa memahami perasaannya dan berusaha untuk memperbaiki keadaan, bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk anak-anak mereka yang membutuhkan lingkungan yang aman dan sehat.
Di sisi lain, permasalahan ini juga membuka mata banyak orang tentang pentingnya komunikasi dalam rumah tangga. Terkadang, masalah yang tampaknya kecil dapat berkembang menjadi konflik besar jika tidak ditangani dengan baik.
Karen berharap agar setiap orang yang menghadapi situasi serupa dapat berbicara dan mencari jalan keluar yang tepat. Terlebih lagi, ia menegaskan bahwa tidak ada orang yang layak untuk mengalami kekerasan dalam rumah tangga, apapun alasannya.
KDRT adalah isu serius yang harus ditangani dengan bijaksana. Karen ingin agar pengalamannya bisa menjadi pelajaran bagi banyak orang untuk tidak ragu dalam mencari bantuan, baik dari keluarga, teman, atau lembaga yang berkompeten.
Melalui cerita dan pengalamannya, Karen berharap bisa memberikan suara bagi mereka yang mungkin merasa tertekan dan tidak memiliki keberanian untuk berbicara. Setiap individu berhak mendapatkan perlakuan yang adil dan penuh kasih sayang dalam hubungan, dan tidak ada yang seharusnya merasa terjebak dalam situasi yang merugikan.



