Pelatih Persiraja Ungkap Pemain Garudayaksa Terancam Dihapus Jika Tidak Berprestasi

Pelatih Persiraja Banda Aceh, Jaya Hartono, menyoroti keputusan wasit yang dianggapnya tidak adil saat timnya bermain imbang 2-2 melawan Garudayaksa FC dalam laga lanjutan putaran ketiga Pegadaian Championship 2025/2026. Pertandingan tersebut berlangsung di Stadion H Dimurthala Lampineung, Banda Aceh, pada malam hari Minggu, 20 April 2026.
Salah satu momen yang menjadi sorotan Jaya adalah insiden yang melibatkan pemain Persiraja, Ihsan Kusuma Siregar. Ia menyatakan bahwa Ihsan dijepit oleh dua pemain lawan namun tidak mendapatkan pelanggaran, sementara pelanggaran kecil terhadap lawan justru langsung direspons oleh wasit.
“Coba lihat Ihsan, dia terjepit oleh dua orang, tidak ada pelanggaran sama sekali. Tapi lawan yang disenggol sedikit, langsung dijatuhi pelanggaran,” ungkap Jaya setelah pertandingan berakhir.
“Situasi ini sangat merugikan kami, karena memberikan kesempatan kepada lawan untuk menyerang ke gawang kami. Ini sudah tidak benar,” tambahnya dengan nada kecewa.
Di samping itu, Jaya juga mengkritik keputusan wasit mengenai penambahan waktu yang melebihi batas normal. Ia berpendapat bahwa hal ini turut merugikan timnya.
Menurut penilaian Jaya, waktu tambahan dalam pertandingan telah mencapai 10 menit, namun wasit masih melanjutkan permainan hingga gol tercipta setelah waktu seharusnya berakhir.
“Saya sangat kecewa dengan penambahan waktu yang terjadi. Sudah 10 menit, tetapi masih ditambah lagi. Gol terjadi setelah waktu resmi habis,” jelas Jaya setelah laga.
Ia mengungkapkan bahwa penambahan waktu tersebut bahkan melebihi tiga menit sebelum gol penyama kedudukan terjadi. Menariknya, Jaya juga menegaskan bahwa situasi serupa bukanlah sesuatu yang baru bagi Persiraja dalam beberapa pertandingan terakhir.
“Kami tidak mengalami situasi ini hanya di pertandingan ini. Hal yang sama juga terjadi sebelumnya. Rasanya seperti kami diperlakukan tidak adil,” kata Jaya.
Dengan pengalaman lebih dari dua dekade dalam dunia kepelatihan, Jaya mengaku bahwa ini adalah kali pertama ia merasakan situasi yang tampaknya berulang. Ia menyatakan bahwa kondisi ini sangat menyulitkan pelatih dalam mengatur hasil pertandingan.
“Saya sudah berada dalam sepak bola cukup lama, namun belum pernah mengalami hal semacam ini. Jika kondisi seperti ini terus berlanjut, kami sebagai pelatih akan sangat terbatas dalam melakukan tindakan,” tutupnya dengan nada serius.




