Tabrakan KRL dan KA Argo Bromo Anggrek, Megawati Dorong Perbaikan Sistem Keamanan Kereta Api

Jakarta – Presiden kelima Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri, menyampaikan rasa duka yang mendalam serta mengucapkan belasungkawa kepada keluarga korban kecelakaan yang melibatkan kereta api Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur. Dalam insiden tersebut, tercatat 16 orang kehilangan nyawa dan 88 lainnya mengalami luka-luka.
Megawati sangat mengikuti perkembangan berita mengenai penanganan korban yang disampaikan melalui media. Menurut Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, Megawati merasa sangat sedih mendengar kabar tersebut. Ia pun mengungkapkan doa untuk semua korban, khususnya bagi mereka yang telah dipanggil Tuhan, agar mendapat tempat terbaik di sisi-Nya.
Hasto menambahkan bahwa Megawati memberikan instruksi kepada Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPR RI untuk memberikan perhatian serius terhadap perbaikan sistem keamanan kereta api di Indonesia. Ini termasuk mengadakan rapat kerja dengan PT KAI dan pihak-pihak terkait lainnya untuk membahas langkah-langkah perbaikan yang diperlukan.
“Ibu Megawati meminta kepada seluruh anggota Poksi V PDI Perjuangan DPR RI yang dipimpin oleh Lasarus untuk segera mengadakan rapat guna membahas perbaikan sistem keamanan, komunikasi, dan instrumentasi kereta api,” jelas Hasto.
Kecelakaan ini dianggap sebagai momentum penting untuk memperbaiki dan memperkuat sistem transportasi di tanah air. Dalam konteks tersebut, Megawati menyampaikan harapannya agar langkah-langkah perbaikan segera diambil.
“Ke depan, kereta api harus menjadi tulang punggung sistem transportasi nasional yang aman, nyaman, tepat waktu, serta menjamin kualitas pelayanan dan keamanan bagi seluruh masyarakat Indonesia,” tambah Hasto menekankan pentingnya langkah-langkah tersebut.
Dalam kesempatan itu, Megawati juga mengenang perjalanan yang sering dilakukan oleh Soekarno, sang proklamator, dengan menggunakan kereta api. Ia mengingat bahwa pada setiap perlintasan, terdapat petugas yang menjaga jalur kereta api, yang dikenal sebagai Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI), yang pada saat itu menggunakan seragam dan membawa bendera merah.
Kereta api memiliki peran yang sangat vital dalam sejarah perjuangan bangsa, termasuk dalam mengangkut pasukan dan logistik selama masa revolusi fisik. Menariknya, Bung Karno pernah bekerja sebagai karyawan di sektor kereta api pada masa penjajahan Belanda, yang menunjukkan betapa crucialnya peran transportasi ini dalam sejarah Indonesia.




