berita

Belgia Ambil Langkah Berbeda dari Uni Eropa Terkait Pengelolaan Aset Rusia

Menteri Luar Negeri Belgia, Maxime Prevot, mengungkapkan penolakannya terhadap rencana penggunaan aset Rusia yang saat ini dibekukan untuk membantu pendanaan Ukraina. Dia menekankan bahwa langkah tersebut masih memiliki sejumlah risiko yang perlu dipertimbangkan dengan serius.

Pernyataan Prevot ini muncul setelah beberapa negara anggota Uni Eropa mengirimkan surat kepada Komisi Eropa dengan tujuan untuk mendorong kembali pengelolaan aset Rusia yang dibekukan sebagai sumber dana untuk Ukraina.

“Sikap Belgia jelas dan konsisten. Kami belum mengubah posisi kami sejak tahun lalu. Risiko yang terkait dengan penggunaan aset tersebut tetap ada dan tidak menghilang begitu saja,” ujar Prevot kepada Politico pada tanggal 28 Agustus 2026.

Pada 19 Desember 2025, dalam sebuah KTT Uni Eropa yang berlangsung di Brussels, para pemimpin UE memutuskan untuk menunda rencana penyitaan aset Rusia. Sebagai alternatif, mereka sepakat untuk memberikan pinjaman sebesar 90 miliar Euro (sekitar Rp1.856 triliun) kepada Ukraina yang akan diambil dari anggaran Uni Eropa.

Usulan yang diajukan oleh Presiden Komisi Uni Eropa, Ursula von der Leyen, untuk menyita aset Rusia sebelumnya telah ditolak oleh Perdana Menteri Belgia, Bart De Wever, yang menunjukkan ketidaksetujuan terhadap langkah tersebut.

Sejak dimulainya operasi militer Rusia di Ukraina, banyak negara di Uni Eropa dan G7 telah membekukan hampir setengah dari cadangan emas dan mata uang asing Rusia, dengan total nilai sekitar 300 miliar Euro (sekitar Rp6.187 triliun).

Lebih dari 200 miliar Euro (sekitar Rp4.120 triliun) dari total aset tersebut tersimpan di Uni Eropa, dengan sebagian besar berada di rekening Euroclear di Belgia, yang dikenal sebagai salah satu sistem kliring dan penyelesaian transaksi paling besar di dunia. Kementerian Luar Negeri Rusia secara tegas menyatakan bahwa pembekuan aset mereka di Eropa merupakan tindakan yang setara dengan pencurian.

Moskow menegaskan bahwa tindakan ini tidak hanya menyasar dana milik sektor swasta, tetapi juga mencakup aset yang dimiliki oleh negara Rusia. Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, menegaskan bahwa Moskow akan mengambil langkah balasan jika negara-negara Barat melanjutkan penyitaan aset Rusia yang telah dibekukan. Lavrov menambahkan bahwa Rusia memiliki opsi untuk tidak mengembalikan dana yang dimiliki negara-negara Barat yang tersimpan di Rusia.

Related Articles

Back to top button
slot qris depo 10k