Tausiah Jusuf Kalla yang Kontroversial Terkait Ajaran Kristen dan Tanggapannya

Wakil Presiden Indonesia yang menjabat pada periode ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla (JK), kini tengah menghadapi tuduhan menistakan ajaran Kristen. Tuduhan ini muncul setelah pernyataannya yang menyebutkan istilah “mati syahid” dalam konteks konflik yang terjadi di Poso dan Ambon.
Tuduhan tersebut berakar dari sebuah rekaman video, di mana Jusuf Kalla menjelaskan bahwa agama sering kali menjadi latar belakang konflik, dengan mengemukakan bahwa kedua belah pihak dalam perselisihan memiliki keyakinan masing-masing mengenai konsep “syahid”.
Sebagai respons terhadap pernyataan JK, Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) bersama Pemuda Katolik resmi melaporkan kasus ini ke SPKT Polda Metro Jaya pada malam hari, 12 April 2026.
Ketua Umum GAMKI, Sahat Martin Philip Sinurat, mengungkapkan bahwa mereka datang ke Polda Metro Jaya mewakili sekitar 19 lembaga Kristen dan organisasi masyarakat. Sebelum itu, mereka mengadakan pertemuan di Sekretariat GAMKI yang berlokasi di Jalan Cirebon untuk membahas polemik yang berkembang.
“Kami dari Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia telah melaporkan Bapak Jusuf Kalla,” ujarnya pada hari Senin, 13 April 2026.
Menurut Sahat, langkah hukum ini diambil untuk menghindari semakin meluasnya masalah di ruang publik, terutama di media sosial.
“Tujuan kami melapor ke Polda Metro Jaya adalah agar pernyataan yang telah menimbulkan kegaduhan di masyarakat dan di media sosial dapat ditangani dengan lebih terarah dan diselesaikan secara hukum,” tambahnya.
Di bawah ini adalah transkrip lengkap pernyataan Jusuf Kalla yang dianggap menistakan ajaran Kristen.
Bismillahirrahmanirrahim. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi rabbil alamin, saya bersyukur kepada Allah SWT, di bulan Ramadan ini, saya diundang hadir di sini untuk bersilaturahmi sekaligus beribadah dan menyampaikan beberapa hal yang diminta oleh panitia mengenai tema perdamaian.
Ada sebuah hadis dari Rasulullah yang menyatakan bahwa ketika beliau bertemu dengan para sahabatnya, beliau bertanya, “Apakah ada di antara kalian yang tahu amal apa yang lebih baik dari salat dan puasa?” Sahabat-sahabatnya menjawab, “Kami tidak tahu, Ya Rasulullah.” Rasulullah kemudian menjelaskan, “Amal yang lebih tinggi daripada salat dan puasa adalah mendamaikan orang-orang yang berselisih. Menyelesaikan perselisihan adalah amal yang sangat mulia.”
Oleh karena itu, pentingnya perdamaian menjadi hal yang diutamakan, dan Rasulullah menekankan bahwa mendamaikan konflik itu adalah amal yang sangat tinggi nilainya, bahkan lebih tinggi dibandingkan salat dan puasa yang merupakan kewajiban.
Dalam konteks ini, terdapat rumusan yang mengatakan bahwa perdamaian merupakan akhir dari konflik, atau sebaliknya, konflik adalah hasil dari hilangnya perdamaian. Maka, ketika kita membicarakan perdamaian, kita juga harus memahami akar konflik yang ada.




