Dana Moneter Internasional (IMF) telah meningkatkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Rusia, yang sebagian besar didorong oleh harga komoditas yang lebih tinggi. Namun, lembaga tersebut juga memberikan peringatan bahwa konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah dapat memberikan dampak negatif pada perekonomian global.
Dalam laporan terbaru mengenai prospek ekonomi dunia yang dirilis pada Selasa, 14 April waktu setempat, IMF memperkirakan bahwa produk domestik bruto (PDB) Rusia akan tumbuh sebesar 1,1 persen pada tahun 2026. Angka ini merupakan revisi naik sebesar 0,3 poin persentase dari estimasi sebelumnya yang dibuat di awal tahun ini.
Revisi angka tersebut didasarkan pada kenaikan harga komoditas, menurut laporan tersebut. IMF juga menambahkan bahwa tren positif ini diperkirakan akan berlanjut hingga tahun 2027, menandakan adanya potensi pertumbuhan yang berkelanjutan.
Inflasi di Rusia diproyeksikan mencapai 5,6 persen untuk tahun ini, menurun dari angka 8,7 persen yang tercatat tahun lalu. Angka inflasi ini diharapkan akan terus menurun menjadi 4,3 persen pada tahun 2027, memberikan harapan bagi stabilitas harga di masa depan.
Sementara itu, Kementerian Pembangunan Ekonomi Rusia memiliki pandangan yang lebih optimis, dengan perkiraan pertumbuhan PDB sebesar 1,3 persen untuk tahun ini dan 2,8 persen untuk tahun depan. Ini menunjukkan adanya keyakinan dalam kebijakan ekonomi domestik yang dapat mendukung pertumbuhan.
Revisi proyeksi IMF muncul di tengah ketegangan baru yang kembali mengganggu pasar energi global akibat konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, serta serangan balasan dari Teheran di berbagai wilayah. Ketegangan ini menciptakan ketidakpastian yang signifikan di pasar energi dunia.
Konflik yang sedang berlangsung ini telah mengganggu jalur pasokan melalui Selat Hormuz, yang merupakan rute utama untuk sebagian besar pasokan minyak mentah dan gas alam global. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan potensi kelangkaan energi di berbagai negara.
IMF juga mengingatkan bahwa gangguan pada pasokan minyak dan kerusakan infrastruktur energi dapat meningkatkan risiko terjadinya “krisis energi besar” jika konflik terus berlanjut. Peringatan ini menjadi semakin relevan mengingat ketergantungan banyak negara pada impor energi.
“Negara-negara yang sangat tergantung pada energi impor akan menjadi ‘sangat rentan’,” ungkap IMF, seperti yang dikutip dari laporan yang ada. Dalam konteks ini, IMF juga menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi globalnya.
Proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia kini diperkirakan mencapai 3,1 persen untuk tahun ini, turun dari estimasi sebelumnya yang sebesar 3,4 persen. Meskipun ada harapan pemulihan, angka tersebut menunjukkan dampak negatif dari ketegangan di Timur Tengah terhadap perekonomian global.
IMF juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat di Amerika Serikat, disertai dengan pelemahan nilai dolar. Zona Euro juga mengalami hal serupa, di mana IMF mengurangi proyeksi pertumbuhannya, dengan alasan bahwa perlambatan ini mencerminkan dampak dari konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah.

