bisnis

Rupiah Menguat Seiring Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI Kuartal I Sebesar 5,2 Persen

Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diperkirakan akan mengalami pergerakan yang fluktuatif, meskipun ditutup dengan pelemahan pada perdagangan hari ini.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, nilai kurs rupiah terhadap dolar AS tercatat di level Rp 16.999 pada Selasa, 31 Maret 2026. Angka ini menunjukkan pelemahan sebesar 6 poin dibandingkan dengan kurs sebelumnya yang berada di Rp 16.993 pada perdagangan Senin, 30 Maret 2026.

Sementara itu, pada perdagangan di pasar spot pada Rabu, 1 April 2026 hingga pukul 09.08 WIB, rupiah tercatat menguat menjadi Rp 16.975 per dolar AS. Posisi ini menunjukkan penguatan sebesar 66 poin atau 0,39 persen dibandingkan dengan nilai sebelumnya yang berada di Rp 17.041 per dolar AS.

Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menyampaikan bahwa para ekonom memperkirakan proyeksi pertumbuhan ekonomi RI untuk kuartal I tahun 2026 akan berada di rentang 5,1 hingga 5,2 persen. Faktor pendorong utama dalam proyeksi ini adalah konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah.

Namun, terdapat beberapa kendala yang dihadapi, seperti perlambatan dalam pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi, serta net-ekspor. Hal ini disebabkan oleh memburuknya kondisi global pada Maret 2026, yang dipicu oleh ketegangan perang di Timur Tengah yang berdampak pada harga energi, pasar keuangan, dan nilai tukar.

Dorongan utama untuk pertumbuhan pada kuartal pertama ini juga sangat dipengaruhi oleh faktor musiman, seperti momentum Ramadhan, Idul Fitri, tunjangan hari raya (THR), bantuan sosial, diskon transportasi, dan pergerakan mudik. Semua ini telah mendorong peningkatan belanja rumah tangga, jasa transportasi, perdagangan, serta sektor makanan dan minuman di berbagai daerah.

Di sisi lain, keyakinan konsumen pada Februari 2026 masih berada pada level yang tinggi, yaitu 125,2. Penjualan ritel menunjukkan penguatan, dan PMI manufaktur berada di angka 53,8, menandakan bahwa aktivitas dunia usaha tetap berlanjut. Selain itu, belanja negara juga mengalami pertumbuhan yang signifikan di awal tahun, menciptakan sinergi antara permintaan dan sisi fiskal.

Dalam konteks ini, pola pertumbuhan yang didominasi oleh konsumsi terlihat menjanjikan untuk jangka pendek, meskipun belum sepenuhnya sehat untuk perspektif jangka panjang.

Konsumsi menjadi penopang utama perekonomian Indonesia, menyumbang sekitar 53 hingga 54 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Hal ini menunjukkan bahwa ketika kondisi global melemah, permintaan domestik dapat berfungsi sebagai penyangga terhadap perlambatan yang terjadi.

Di sisi lain, sinyal positif terlihat dari survei Bank Indonesia (BI) yang menunjukkan bahwa proporsi pendapatan rumah tangga yang digunakan untuk konsumsi telah turun menjadi 71,6 persen. Sementara itu, porsi tabungan meningkat menjadi 17,7 persen. Ini menunjukkan bahwa meskipun rumah tangga masih melakukan belanja, mereka menjadi lebih berhati-hati dalam pengeluaran mereka.

Related Articles

Back to top button
slot qris depo 10k