Riset Menunjukkan AI Dapat Mengakibatkan Resesi di Dunia Kerja, Pekerja Kantoran Terancam

Perkembangan pesat dalam teknologi kecerdasan buatan (AI) telah mulai merambah berbagai sektor pekerjaan, dengan dampak yang semakin nyata. Studi terbaru mengindikasikan bahwa kemampuan AI kini tidak hanya terbatas pada tugas-tugas teknis yang sederhana, tetapi juga mulai menyentuh profesi profesional yang lebih kompleks seperti analis keuangan, pengacara, hingga pengembang perangkat lunak.
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh perusahaan AI asal Amerika Serikat, Anthropic, baru-baru ini menerbitkan laporan yang memetakan pekerjaan-pekerjaan yang berpotensi tergantikan oleh teknologi kecerdasan buatan. Dalam studi berjudul ‘Labor market impacts of AI: A new measure and early evidence’, peneliti Maxim Massenkoff dan Peter McCrory menemukan bahwa adopsi AI saat ini masih jauh dari potensi maksimal teknologi tersebut.
Secara teori, AI mampu mengerjakan sebagian besar tugas yang terdapat dalam bidang bisnis, keuangan, manajemen, ilmu komputer, matematika, hukum, dan bahkan pekerjaan administrasi. Namun, dalam praktiknya, pemanfaatan AI di lingkungan kerja masih jauh lebih rendah dibandingkan dengan kemampuan teknologi yang tersedia.
Penelitian ini memanfaatkan data penggunaan dari model AI Claude AI yang dikembangkan oleh Anthropic, untuk menilai sejauh mana teknologi ini digunakan dalam berbagai aktivitas profesional.
Dalam konteks ini, pekerja dengan pendidikan tinggi ternyata memiliki risiko yang lebih besar dibandingkan dengan pekerja manual.
Menurut laporan yang dipublikasikan oleh Fortune, salah satu temuan signifikan dari studi tersebut adalah bahwa kelompok pekerja yang paling rentan bukanlah mereka yang melakukan pekerjaan manual, melainkan para profesional yang memiliki tingkat pendidikan tinggi.
Para peneliti mencatat bahwa karakteristik kelompok pekerjaan yang memiliki paparan tinggi terhadap AI berbeda dengan apa yang umumnya diperkirakan. Kelompok ini cenderung terdiri dari 16 persen perempuan, dengan pendapatan rata-rata yang 47 persen lebih tinggi, dan hampir empat kali lebih mungkin memiliki gelar pascasarjana jika dibandingkan dengan kelompok yang paling sedikit terpapar AI.
Profesi seperti pengacara, analis keuangan, dan pengembang perangkat lunak termasuk di antara pekerjaan yang paling terpengaruh oleh kehadiran AI. Selain itu, pekerjaan seperti programmer komputer, petugas layanan pelanggan, dan operator entri data juga dinilai sangat rentan terhadap otomatisasi melalui teknologi AI.
Sebaliknya, jenis pekerjaan yang memerlukan kehadiran fisik, seperti koki, mekanik, bartender, dan pencuci piring, ternyata hampir tidak terpengaruh oleh perkembangan teknologi AI saat ini.




