Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyampaikan bahwa sesuai dengan arahan Presiden Prabowo, pemerintah akan memaksimalkan semua sumber daya yang ada untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Langkah ini diambil sebagai bagian dari strategi bertahan di tengah ketidakpastian global yang saat ini melanda.
Purbaya menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen untuk melakukan berbagai upaya guna menjaga agar roda ekonomi tetap berputar, dengan harapan mempertahankan target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen.
“Di dalam pemikiran Presiden, kita saat ini berada dalam kondisi bertahan, bukan dalam keadaan bisnis seperti biasa,” ungkap Purbaya saat memberikan pernyataan di kawasan Sudirman, Jakarta Selatan, pada Rabu, 22 April 2026.
Pemerintah juga telah membentuk berbagai satuan tugas (satgas) untuk memastikan penerimaan negara, pengeluaran negara, serta perbaikan iklim usaha.
“Misalnya, ada Satgas PKH yang bertugas menertibkan kawasan hutan dan menangani penggelapan serta penyelewengan yang terjadi di wilayah tersebut,” tambahnya.
Selain itu, pemerintah sedang melakukan perbaikan menyeluruh dalam pengelolaan, termasuk memastikan bahwa sumber daya alam dikelola dengan baik agar dapat memberikan hasil yang optimal bagi negara.
“Saya ingin menegaskan bahwa kita ada dalam mode bertahan. Segala upaya harus dilakukan semaksimal mungkin. Tidak ada ruang untuk bermain-main,” tegas Purbaya.
Ia juga menjelaskan arah kebijakan yang diambil oleh Presiden Prabowo, yang mencakup beberapa program prioritas seperti pembangunan infrastruktur, penguatan ketahanan energi, dan pengembangan ekonomi di daerah.
Pemerintah juga mendorong efisiensi dalam penganggaran dan peningkatan kapasitas industri guna menciptakan nilai tambah, termasuk dengan mengembangkan sektor kimia dan hilirisasi yang berorientasi pada ekspor.
Dalam upaya ketahanan energi, pemerintah berusaha untuk melakukan diversifikasi sumber pasokan agar tidak bergantung pada satu atau dua lokasi. Langkah ini dianggap penting untuk menjaga stabilitas di tengah risiko gangguan yang dapat muncul secara global.
“Jika semua langkah ini berjalan dengan baik, investasi akan masuk dan lapangan kerja pun akan terbuka,” ujarnya.
Dari sisi fundamental, Purbaya meyakini bahwa ekonomi Indonesia masih dalam kondisi yang cukup kuat. Stabilitas fiskal, kredibilitas dalam pengambilan kebijakan, dan besarnya kontribusi permintaan domestik menjadi faktor utama yang mendukung.
Ia mencatat bahwa sekitar 90 persen dari perekonomian nasional masih didorong oleh konsumsi domestik, sehingga menjaga daya beli masyarakat menjadi kunci penting. Sebagai contoh, pada krisis global tahun 2009, Indonesia mampu tumbuh sebesar 4,6 persen di saat banyak negara lainnya mengalami kontraksi.

