Fenomena blue fire yang terlihat di Kawah Manuk, Gunung Papandayan, yang terletak di Garut, Jawa Barat, menyimpan risiko yang sangat serius. Di balik keindahan api biru yang menakjubkan ini, terdapat pelepasan gas vulkanik dengan kadar yang jauh melebihi batas aman bagi kesehatan manusia.
Menurut Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), fenomena unik ini terjadi akibat keluarnya gas vulkanik bersuhu tinggi dari area kawah yang aktif.
Kepala PVMBG Badan Geologi, Rita Susilawati, mengungkapkan bahwa kemunculan blue fire di Gunung Papandayan telah terpantau sejak 24 September 2026.
Dalam sebuah video konfirmasi yang diterima di Jakarta, Rita menjelaskan bahwa nyala api berwarna biru ini terbentuk dari reaksi kimia antara gas belerang berkadar tinggi yang keluar melalui retakan fumarol dan oksigen yang ada di atmosfer.
Tim ahli dari Badan Geologi yang melakukan pemeriksaan langsung di lokasi juga menemukan konsentrasi gas vulkanik yang perlu menjadi perhatian.
Kadar Sulfur Dioksida (SO2) yang terukur mencapai 230 ppm, sedangkan kadar Hidrogen Sulfida (H2S) berada pada angka 120 ppm. Kedua gas ini berpotensi membahayakan kesehatan, terutama bagi orang-orang yang berada terlalu dekat dengan area pelepasannya.
Selain memunculkan api biru, suhu tinggi dan konsentrasi gas tersebut juga dapat menyebabkan material belerang yang terdapat di sekitar dinding kawah terbakar.
Walaupun fenomena blue fire di Gunung Papandayan terbilang langka, ini bukanlah kali pertama terjadinya. Badan Geologi mencatat bahwa kejadian serupa pernah terjadi di Kawah Baru pada 22 Februari 2023 dan 12 Juli 2025.
Pada tahun 2026, fenomena ini kembali terlihat di Kawah Manuk.
“Fenomena blue fire di Papandayan ini sebenarnya bukan yang pertama. Badan Geologi mencatat bahwa kejadian serupa pernah terjadi di Kawah Baru pada 22 Februari 2023 dan 12 Juli 2025, sedangkan pada tahun 2026 ini ditemukan di Kawah Manuk,” ungkapnya.
Rita juga menjelaskan bahwa kehadiran api biru di Papandayan memiliki karakteristik yang berbeda dengan fenomena serupa yang terjadi di Gunung Ijen, Jawa Timur.
Jika di Ijen fenomena ini terkait dengan aktivitas solfatar yang memiliki kandungan belerang tinggi secara konstan, kemunculan blue fire di Papandayan justru tergolong jarang.

