Site icon Arkha

Mendagri Antisipasi Lonjakan Harga Pangan, Fokus pada Beras dan Telur

Jakarta – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengimbau kepada seluruh kepala daerah untuk meningkatkan kewaspadaan terkait dengan lonjakan harga komoditas pangan utama. Kenaikan harga ini sangat berdampak bagi 20 persen masyarakat termiskin di Indonesia, yang sangat bergantung pada ketersediaan pangan yang terjangkau.

Tito menekankan pentingnya menjaga laju inflasi nasional agar tidak melebihi batas atas target pemerintah yang telah ditetapkan sebesar 3,5 persen. Ia menjelaskan bahwa setiap kenaikan harga bahan pokok, sekecil apa pun, akan memberikan dampak signifikan bagi kelompok masyarakat dengan pendapatan harian, khususnya bagi mereka yang berada di desil terendah.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Tito dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi yang diadakan di Kantor Kemendagri, Jakarta, pada tanggal 12 Oktober 2026. Dalam rapat tersebut, ia melibatkan perwakilan dari berbagai kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah untuk membahas langkah-langkah strategis dalam menjaga kestabilan harga.

“Jika inflasi mencapai angka di atas 3,5 persen, maka dampaknya akan sangat terasa bagi kelompok desil satu dan dua. Masyarakat yang termasuk dalam 20 persen termiskin hidup sehari-hari, dan setiap kenaikan harga komoditas bahkan hanya beberapa ribu rupiah sudah berpengaruh besar bagi kehidupan mereka. Sementara itu, kelas menengah mungkin belum merasakannya,” jelas Tito.

Tito mengungkapkan bahwa kelompok pengeluaran untuk makanan, minuman, dan tembakau mencatatkan inflasi bulanan sebesar 0,88 persen pada bulan September 2026. Angka ini menjadi penyebab utama peningkatan inflasi bulanan nasional dari 0,21 persen pada Agustus menjadi 0,30 persen pada bulan September.

“Sektor yang paling krusial bagi kita dan harus dijaga dengan baik adalah makanan dan minuman, karena ini berkaitan langsung dengan kebutuhan pokok masyarakat yang berpenghasilan rendah,” tambahnya.

Secara rinci, Tito mengidentifikasi beberapa komoditas yang menjadi penyebab utama lonjakan harga pangan. Komoditas tersebut antara lain aneka cabai, daging ayam ras, telur ayam ras, dan beras. Ia meminta agar para kepala daerah memberikan perhatian yang lebih pada komoditas pangan strategis ini untuk memastikan ketersediaannya tetap terjamin.

“Untuk cabai, kami tidak terlalu khawatir karena bukanlah komoditas utama. Namun, kami sangat perlu waspada terhadap daging ayam ras, telur ayam ras, dan beras yang merupakan kebutuhan pokok masyarakat,” imbuh Tito.

Berdasarkan data dari Kemendagri, kenaikan harga beras terpantau terjadi di 127 kabupaten dan kota di seluruh Indonesia. Sementara itu, lonjakan harga telur ayam ras tercatat di 106 daerah, dan harga daging ayam ras mengalami kenaikan di 194 daerah.

Kemendagri juga telah menginstruksikan pemerintah daerah untuk segera berkoordinasi dengan Badan Pangan Nasional serta Perum Bulog. Tindakan intervensi dan operasi pasar dianggap mendesak untuk dilakukan di daerah-daerah yang mengalami lonjakan harga guna melindungi daya beli masyarakat.

Exit mobile version