Jakarta – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mengidentifikasi lima kelurahan yang paling rawan mengalami kebakaran, yang disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk masalah kelistrikan dan kelalaian masyarakat.
“Dari tahun 2021 hingga 2025, hasil pengamatan menunjukkan bahwa Kelurahan Kapuk, Cengkareng Timur, Penjaringan, Pegadungan, dan Pulo Gebang adalah yang paling sering melaporkan insiden kebakaran,” ungkap Mohamad Yohan, Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan BPBD DKI Jakarta, pada Jumat di Jakarta.
Dari analisis karakteristik kawasan dan data yang berkaitan dengan insiden kebakaran di kelima kelurahan tersebut, Yohan menjelaskan bahwa terdapat pola-pola tertentu yang menyebabkan tingginya frekuensi kebakaran di daerah-daerah itu.
Dia mencatat bahwa secara keseluruhan di Jakarta, sekitar 70-80 persen kebakaran disebabkan oleh korsleting listrik. Di tempat-tempat seperti Kapuk dan Penjaringan, ada sejumlah faktor, seperti beban listrik yang berlebihan, penggunaan perangkat elektronik yang melebihi kapasitas daya bangunan, serta instalasi yang tidak sesuai standar. Selain itu, penggunaan kabel dan stop kontak yang tidak memenuhi standar SNI juga menjadi masalah, terutama di kawasan permukiman yang padat.
Lebih lanjut, faktor kepadatan bangunan serta penggunaan material yang mudah terbakar, terutama di Kelurahan Kapuk, Cengkareng Timur, dan Penjaringan, berkontribusi pada risiko kebakaran yang tinggi. Ketiga kelurahan ini memiliki struktur permukiman yang sangat rapat, membuat potensi penyebaran api semakin besar.
Yohan juga menyoroti penggunaan konstruksi semi permanen, di mana banyak bangunan masih menggunakan material seperti kayu atau triplek. Hal ini membuat api dapat menyebar dengan cepat sebelum tim pemadam kebakaran tiba di lokasi.
Di samping itu, aktivitas industri rumah tangga dan pergudangan juga turut berperan, terutama di Cengkareng Timur, Pegadungan, dan Pulo Gebang yang memiliki banyak area campuran antara hunian dan industri kecil seperti konveksi, bengkel, serta gudang penyimpanan.
Selanjutnya, Yohan menjelaskan bahwa kondisi geografis dan infrastruktur di wilayah-wilayah ini juga berkontribusi terhadap tingginya angka kebakaran. Meskipun tidak menjadi penyebab langsung, kedua faktor ini membuat laporan kebakaran tetap meningkat karena api kecil sering kali sulit untuk dipadamkan secara mandiri oleh warga.
“Faktor manusia juga memainkan peran penting dalam tingginya insiden kebakaran. Kelalaian dalam penggunaan kompor dan membakar sampah tanpa pengawasan sering kali menjadi penyebab api merembet ke daerah sekitar,” jelas Yohan.
Sebagai upaya mitigasi terhadap risiko kebakaran, BPBD DKI bersama dengan Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan DKI Jakarta telah memprioritaskan kelurahan-kelurahan tersebut untuk menjalankan program Relawan Pemadam Kebakaran (Redkar). Selain itu, mereka juga melakukan pemasangan Lampu Otomatis Pemutus Arus (LOVA) untuk mengurangi kejadian kebakaran yang disebabkan oleh korsleting listrik.

