Keluarga Sausan Sarifah awalnya mengalami kesulitan untuk mempercayai bahwa Sausan adalah salah satu korban dari kecelakaan yang melibatkan kereta KA Argo Bromo Anggrek dan KRL.
Insiden tragis ini terjadi pada malam hari, tepatnya pada tanggal 27 April, ketika KRL yang sedang dalam perjalanan menuju Cikarang berhenti di Stasiun Bekasi Timur.
Yuli, salah satu anggota keluarga Sausan, menceritakan bahwa ibunya menerima panggilan telepon dari nomor yang tidak dikenal. Namun, ia memilih untuk tidak mengangkat telepon itu karena merasa ragu dengan nomor tersebut.
“Awalnya, ketika kejadian itu, ibunya terus mendapatkan panggilan telepon. Namun, karena merasa tidak mengenal nomor itu, ia pun merasa takut dan tidak mengangkatnya,” ujar Yuli saat ditemui di RSUD Kota Bekasi, sebagaimana dilaporkan pada Kamis, 30 April 2026.
Setelah tidak ada respon dari telepon, nomor tersebut mengirimkan pesan melalui WhatsApp yang memberi tahu bahwa Sausan telah menjadi korban tabrakan KRL di Bekasi.
Meskipun demikian, keluarga Sausan tetap merasa skeptis dan menganggap bahwa pesan tersebut adalah penipuan yang bertujuan meminta uang.
“Lalu ada pesan WA yang mengatakan, ‘Ibu, anaknya kecelakaan’. Kami biasanya menerima pesan-pesan semacam itu yang ternyata hoaks dan meminta uang. Jadi, kami tidak langsung percaya,” jelas Yuli.
Kekhawatiran keluarga mulai sirna ketika kakak Sausan akhirnya mendapatkan informasi mengenai kondisi adiknya yang sebenarnya, sehingga mereka mulai percaya akan kebenaran berita tersebut.
Yuli mengungkapkan bahwa keluarga sempat merasa panik, mengira Sausan mungkin sudah meninggal. Hal ini disebabkan oleh foto yang diterima keluarga, di mana Sausan terlihat tergeletak di peron setelah dievakuasi dari gerbong kereta.
“Foto yang dikirimkan menunjukkan posisinya yang sudah terbaring. Saat melihat itu, kami langsung berdoa, Ya Allah, jangan sampai dia sudah meninggal. Karena posisinya yang tergeletak di peron membuat kami sangat khawatir,” tuturnya dengan suara bergetar.
Dengan beragam perasaan yang campur aduk, keluarga Sausan akhirnya berusaha untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai kondisi adiknya yang terlibat dalam insiden tersebut. Mereka merasa bersyukur bahwa Sausan masih hidup meskipun dalam keadaan kritis.
Kecelakaan yang terjadi antara KA Argo Bromo dan KRL tersebut bukan hanya meninggalkan dampak emosional bagi keluarga, tetapi juga menyoroti pentingnya komunikasi yang jelas dalam situasi darurat.
Keluarga Sausan berharap agar kejadian serupa tidak terulang lagi di masa depan, dan menginginkan agar pihak berwenang meningkatkan keselamatan transportasi publik demi menjaga keselamatan penumpang.
Mereka juga mendukung inisiatif untuk memberikan edukasi mengenai cara berkomunikasi yang benar dalam situasi darurat, sehingga informasi yang diterima tidak menambah kepanikan, melainkan memberikan kejelasan dan harapan.
Insiden ini bukan hanya sebuah tragedi pribadi, tetapi juga menjadi pengingat bagi semua pihak mengenai pentingnya keselamatan dan kewaspadaan saat menggunakan transportasi umum.
Dengan segala kesedihan dan harapan, keluarga Sausan terus mendampingi dan memberikan dukungan moral kepada Sausan dalam proses pemulihan dari luka-luka yang dialaminya akibat kecelakaan tersebut.
Kehadiran keluarga di samping Sausan menjadi sumber kekuatan bagi dirinya, dan mereka bertekad untuk selalu berada di sisinya pada setiap langkah pemulihan yang akan dilalui.
Keluarga Sausan berjanji untuk terus berjuang demi keselamatan dan kesejahteraan adiknya, serta mendorong pihak terkait untuk melakukan tindakan preventif agar insiden serupa tidak kembali terjadi di masa yang akan datang.

