Pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Bantul, Yogyakarta, Gerardus Majella Hananto Hega Permannaditya, telah resmi dipecat oleh Badan Gizi Nasional Regional D.I Yogyakarta. Pemecatan ini terjadi setelah beredarnya video yang menunjukkan sikapnya yang dinilai tidak menunjukkan empati terhadap korban keracunan di Kabupaten Karo, Sumatera Utara.
Tindakan Gerardus menarik perhatian Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, yang menyatakan penyesalan melalui akun Instagram resminya. Dengan kejadian ini, muncul pertanyaan mengenai konteks di balik perilaku Gerardus. Berikut adalah kronologi kejadian yang melibatkan dirinya.
Awal mula masalah ini terjadi ketika Gerardus mengunggah video yang menunjukkan dirinya sedang menikmati chicken katsu. Dalam video yang kemudian viral di social media, Gerardus menyebut bahwa makanan yang dimakannya itu adalah sisa dari sehari sebelumnya. Ia lantas mempertanyakan apakah makanan tersebut masih layak dan enak untuk dikonsumsi.
“By the way, saya sedang makan chicken katsu yang kemarin. Apakah masih enak? Hmm,” ungkapnya dalam video yang menjadi perbincangan hangat di media sosial.
Setelah itu, pegawai SPPG asal Bantul tersebut melanjutkan dengan memakan chicken katsu yang dimaksud. Dia kemudian melontarkan pernyataan sarkastis yang menyebut dirinya mengalami kehilangan ingatan hingga 70 persen.
Pernyataan tersebut menuai kritik karena dianggap merendahkan kondisi para siswa di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, yang sebelumnya dilaporkan mengalami kehilangan ingatan hingga 70 persen akibat dugaan keracunan. Video tersebut pun ramai dikaitkan dengan dugaan olok-olokan terhadap para korban.
“Oh tidak, ingatanku hilang 70 persen,” tambahnya.
Badan Gizi Nasional Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengambil tindakan setelah video pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Dlingo, Bantul, menjadi viral di media sosial. Koordinator Regional BGN DIY, Wirandita Gagat Widyatmoko, mengonfirmasi bahwa individu dalam video tersebut adalah pegawai SPPG Dlingo yang menjabat sebagai pengawas keuangan.
“Kami sangat prihatin dan menyayangkan jika memang ada pernyataan dari pihak SPPG yang tidak menunjukkan rasa empati terhadap masyarakat yang terkena dampak,” ujarnya di Yogyakarta pada Sabtu, 19 September 2026, seperti yang dikutip dari sumber berita terpercaya.
Kejadian ini menjadi pelajaran berharga mengenai pentingnya sikap empati, terutama bagi pegawai yang bekerja di lembaga yang berhubungan langsung dengan kesehatan masyarakat. Dalam situasi yang sensitif, tindakan dan pernyataan yang tidak hati-hati dapat berpotensi menambah luka bagi mereka yang sudah mengalami kesulitan.
Sikap empati seharusnya menjadi salah satu prioritas dalam pelayanan publik. Pegawai yang bekerja di bidang kesehatan dan gizi dituntut untuk tidak hanya profesional dalam tugasnya, tetapi juga peka terhadap situasi yang dihadapi masyarakat.
Kejadian ini menunjukkan bahwa tindakan kecil pun dapat memiliki dampak besar, baik bagi individu maupun bagi institusi. Oleh karena itu, penting bagi setiap pegawai untuk selalu berkomunikasi dengan bijak dan mempertimbangkan perasaan orang lain dalam setiap tindakan mereka.
Kehilangan pekerjaan mungkin menjadi konsekuensi bagi Gerardus, namun ini juga dapat menjadi momen refleksi bagi semua pegawai di SPPG dan lembaga lain untuk meningkatkan kesadaran akan dampak dari kata-kata dan tindakan mereka.
Dalam dunia yang semakin terhubung, setiap tindakan dapat dengan cepat menjadi sorotan publik. Maka dari itu, menjaga citra positif dan menunjukkan rasa empati adalah hal yang sangat penting bagi setiap individu, terutama yang bekerja di sektor pelayanan publik.
Pentingnya pendidikan dan pelatihan mengenai empati dan komunikasi yang baik dalam institusi publik juga tidak bisa diabaikan. Hal ini dapat membantu pegawai memahami respons yang tepat dalam situasi krisis, serta menghindari kesalahpahaman yang dapat merugikan banyak pihak.
Melalui insiden ini, kita diingatkan akan tanggung jawab sosial yang diemban oleh setiap pegawai, terutama mereka yang terlibat dalam pelayanan masyarakat. Empati bukan hanya sekadar sikap, tetapi juga merupakan bagian integral dari pekerjaan yang harus dijunjung tinggi dalam setiap aspek kehidupan profesional.
Dengan adanya kasus ini, diharapkan akan ada langkah-langkah perbaikan yang diambil oleh pihak SPPG dan instansi terkait untuk mencegah terulangnya insiden serupa di masa depan. Ini adalah kesempatan untuk belajar dan tumbuh, baik bagi individu maupun organisasi, demi meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

