Site icon Arkha

Industri Batik Menuju Inklusi, Pelaku Baru Muncul dan Berkembang Pesat

Industri batik di Indonesia mengalami perkembangan yang signifikan dengan semakin banyak pelaku dari berbagai latar belakang yang terlibat. Selain menjadi bagian integral dari sektor kreatif dan budaya, praktik membatik juga memberikan peluang bagi masyarakat untuk mengasah keterampilan mereka dan menciptakan produk yang bernilai ekonomi.

Salah satu langkah untuk memperluas partisipasi pelaku baru adalah melalui program pelatihan membatik yang ditujukan bagi 100 penyandang disabilitas di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Acara bertajuk “Membatik Bersama 100 Difabel” ini diadakan beberapa waktu lalu di Yogyakarta.

Program tersebut diselenggarakan oleh Mandiri Utama Finance (MUF) bekerja sama dengan Yayasan Difabelzone. Peserta pelatihan berasal dari berbagai daerah seperti Bantul, Sleman, Kulon Progo, Gunungkidul, serta Kota Yogyakarta. Mereka mendapatkan pelatihan dan bimbingan membatik selama satu bulan lengkap dengan dukungan peralatan yang diperlukan.

Corporate Secretary & Legal Division Head MUF, Elisabeth L. Sirait, menyatakan bahwa pelatihan ini bertujuan untuk mengembangkan keterampilan para peserta sekaligus membuka akses ke kegiatan ekonomi yang lebih luas.

“Melalui program ini, kami berupaya untuk mendukung penyandang disabilitas dalam mengasah keterampilan dan kreativitas mereka dalam membatik, sehingga mereka dapat menciptakan karya yang bernilai ekonomi dan meraih kemandirian,” ungkap Elisabeth, yang dikutip dari penjelasannya pada Sabtu, 26 September 2026.

Ia juga menambahkan bahwa dukungan ini diharapkan dapat memberikan kesempatan bagi peserta untuk terus mengembangkan keterampilan dan potensi usaha mereka secara berkelanjutan.

Di sisi lain, Sulasno, Branch Manager MUF Yogyakarta, mengatakan bahwa kegiatan membatik dapat berfungsi sebagai sarana untuk meningkatkan kreativitas sekaligus menciptakan produk dengan nilai ekonomi yang signifikan.

“Semoga dari kegiatan membatik ini muncul karya-karya yang membanggakan, memiliki nilai ekonomi, dan membuka peluang usaha yang dapat meningkatkan perekonomian keluarga,” harap Sulasno.

Lebih lanjut, Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X, menjelaskan bahwa membatik tidak hanya menyangkut keterampilan teknis semata. Proses ini juga memerlukan ketekunan, ketelitian, serta keberanian. Ia berharap kegiatan ini dapat mendorong lahirnya identitas batik difabel Yogyakarta dengan karakter dan nilai budaya yang khas.

Sebanyak 100 peserta dalam program ini memiliki latar belakang disabilitas yang beragam, termasuk daksa, cerebral palsy, polio, tunarungu, tunagrahita, tuna laras, low vision, hingga autisme.

Setelah menjalani pelatihan selama sebulan, karya-karya yang dihasilkan oleh peserta akan dipamerkan pada 3 Desember 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Disabilitas. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya untuk memperluas akses bagi kelompok baru untuk terlibat dalam aktivitas produksi batik, sekaligus mengembangkan potensi ekonomi dari keterampilan yang mereka miliki.

Exit mobile version