Jakarta – Aset kripto mengalami tekanan signifikan setelah negosiasi perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran tidak membuahkan hasil. Kejadian ini memicu aksi jual di kalangan investor, dengan Bitcoin yang mengalami penurunan sekitar 3 persen, kini berada di kisaran US$70.000.
Berdasarkan laporan dari Yahoo Finance, Bitcoin dibuka dengan penurunan sebesar 3,2 persen, mencapai level US$70.741,30 atau sekitar Rp 1,21 miliar (berdasarkan kurs Rp 16.190 per dolar AS) pada sesi perdagangan hari Senin, 13 April 2026. Pada pukul 07.28 waktu setempat, harga Bitcoin sedikit naik menjadi US$70.872,20.
Ethereum, sebagai aset kripto terbesar kedua, juga merasakan dampak negatif. Harga Ethereum anjlok ke US$2.191,66, setara dengan Rp 37,66 juta, mengalami penurunan sebesar 4,1 persen dalam 24 jam terakhir. Selanjutnya, harga Ethereum kembali melemah sedikit menjadi US$2.186,45, yang setara dengan sekitar Rp 37,57 juta.
Sentimen pasar yang negatif semakin diperburuk oleh meningkatnya ketegangan geopolitik. Presiden AS, Donald Trump, telah mengeluarkan perintah untuk memblokir kapal-kapal yang berlayar melalui Selat Hormuz menuju pelabuhan di Iran, menyusul ketidakberhasilan pembicaraan damai yang berlangsung pada akhir pekan lalu.
Langkah ini makin memperburuk suasana pasar dan mengurangi minat investor terhadap aset berisiko, termasuk mata uang kripto. Selain itu, tren inflasi yang terus meningkat di AS juga menambah tekanan pada pergerakan harga di pasar.
Meskipun demikian, TipRanks melaporkan bahwa pasar kripto sempat menunjukkan pergerakan positif menjelang akhir pekan. Bitcoin bahkan berhasil menembus level US$73.000 atau sekitar Rp 1,25 miliar pada hari Jumat, 10 April 2026.
Lonjakan ini dipicu oleh berita mengenai gencatan senjata sementara antara AS dan Iran. Secara mingguan, Bitcoin masih mencatatkan kenaikan sebesar 10 persen dibandingkan dengan level US$66.000 yang tercatat pada awal bulan April.
Michael Saylor, seorang tokoh terkenal dalam dunia kripto, berpendapat bahwa Bitcoin telah mencapai titik terendah di kisaran US$60.000 dan bersiap untuk melanjutkan tren positifnya. Namun, pandangan ini bertolak belakang dengan proyeksi beberapa analis yang memperingatkan pemilik Bitcoin untuk tidak terlalu optimis, karena terdapat sedikit katalis jangka pendek yang dapat mendukung pergerakan Bitcoin dan aset kripto lainnya.
Dalam tiga bulan terakhir, Bitcoin tercatat mengalami penurunan hingga 22 persen, yang dimulai dari aksi jual yang terjadi sejak Oktober 2024. Dengan kondisi ini, pergerakan harga aset kripto masih sangat dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik global serta kebijakan ekonomi yang diambil oleh AS.

