BBM Terbatas, KAI Terapkan B40 untuk Lokomotif dan Genset demi Efisiensi Energi

Jakarta – PT Kereta Api Indonesia (Persero) telah mengumumkan bahwa semua lokomotif dan genset yang digunakan dalam operasionalnya kini telah beralih ke penggunaan biosolar B40.
Anne Purba, Wakil Presiden Komunikasi Perusahaan KAI, menyatakan bahwa langkah ini merupakan upaya perusahaan dalam menerapkan energi ramah lingkungan di tengah semakin langkanya Bahan Bakar Minyak (BBM). Selain itu, KAI juga mempersiapkan diri untuk mengadopsi B50 sebagai bagian dari strategi untuk meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan transportasi di Indonesia.
“Semua sarana lokomotif dan genset yang dioperasikan oleh KAI sudah menggunakan energi terbarukan dengan bahan bakar biosolar B40,” ungkap Anne dalam keterangannya pada 13 April 2026.
Dia menjelaskan bahwa penggunaan B40 ini mendukung inisiatif Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang bertujuan menghadirkan energi terbarukan dalam sektor transportasi. Dengan memanfaatkan energi terbarukan, operasional kereta api diharapkan dapat menghasilkan emisi yang lebih rendah, serta memperkuat perannya sebagai solusi logistik dan transportasi yang lebih ramah lingkungan.
Sebagai pengguna teknologi energi hijau, KAI berkomitmen untuk menjadi mitra mobilitas yang dapat diandalkan oleh masyarakat. “Kami menyadari bahwa efisiensi dan biaya perjalanan yang terjangkau sangat penting bagi masyarakat. Di tengah situasi BBM yang semakin terbatas, kereta api hadir sebagai solusi mobilitas yang tetap ekonomis dan dapat diandalkan,” tutur Anne.
Ia juga menekankan bahwa dengan menggunakan B40 yang merupakan hasil inovasi dari Kementerian ESDM, setiap pelanggan berkontribusi pada transformasi signifikan menuju transisi energi nasional yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.
“KAI sangat memperhatikan dan siap mendukung langkah selanjutnya dari Kementerian ESDM, yaitu pengembangan B50,” kata Anne.
Strategi pemerintah dalam meningkatkan pemanfaatan bahan bakar nabati (BBN) merupakan bagian dari rencana besar menuju kemandirian energi nasional serta pencapaian target net zero emission (NZE) pada tahun 2060.
Anne menambahkan bahwa KAI sangat antusias dengan kehadiran B50 yang nantinya akan diterapkan dalam sistem perkeretaapian. Mengingat keselamatan perjalanan adalah prioritas utama, semua sarana lokomotif dan genset yang akan menggunakan B50 pastinya akan melalui serangkaian uji coba teknis sebelum resmi melayani penumpang.
Lebih jauh lagi, dia menyatakan bahwa KAI mendukung penuh rencana transisi ke B50 yang sedang dikerjakan oleh Kementerian ESDM. Pemanfaatan energi terbarukan yang semakin berkembang membuat kereta api semakin unggul dalam menjaga kelestarian lingkungan, sehingga kita dapat mewariskan alam yang lebih sehat untuk generasi mendatang.




