Anggota DPR: Tindakan Antisipasi untuk Menghadapi Dampak Konflik Global pada Industri Nasional

Anggota Komisi VII DPR RI, Gandung Pardiman, mendorong pemerintah untuk segera mengambil tindakan preventif terhadap meningkatnya ketegangan geopolitik, khususnya antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Menurutnya, situasi ini menimbulkan kecemasan yang signifikan terhadap stabilitas ekonomi global, terutama dalam sektor energi, logistik internasional, dan rantai pasok bahan baku untuk industri dalam negeri.
Gandung Pardiman berpendapat bahwa ketegangan yang terjadi di Timur Tengah berpotensi memicu lonjakan harga energi global, mengganggu jalur perdagangan internasional, serta meningkatkan biaya logistik untuk pengadaan bahan baku.
“Ketegangan di kawasan Timur Tengah dapat menyebabkan volatilitas harga energi global, gangguan pada jalur perdagangan internasional, serta kenaikan biaya logistik dan bahan baku di industri. Jika kondisi ini terus berlanjut, akan berpengaruh pada daya saing sektor manufaktur di berbagai negara, termasuk Indonesia,” ujar Gandung dalam keterangan resmi yang dikeluarkannya pada 12 Maret 2026.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa Selat Hormuz merupakan jalur perdagangan minyak yang sangat penting. Penutupan selat tersebut dapat berakibat pada kenaikan harga energi di pasar internasional.
“Selat Hormuz adalah jalur vital bagi distribusi minyak dunia. Sekitar 20% pasokan minyak global melewati jalur ini, sehingga setiap gangguan yang terjadi di kawasan tersebut dapat menyebabkan lonjakan harga energi internasional,” tambahnya.
Apabila harga energi global mengalami kenaikan, Gandung memperingatkan bahwa industri manufaktur di Indonesia akan merasakan dampaknya. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa sebagian besar sektor industri bergantung pada energi sebagai salah satu komponen biaya produksi utama.
“Industri seperti petrokimia, logam dasar, semen, pupuk, serta berbagai subsektor industri pengolahan lainnya sangat rentan terhadap fluktuasi harga energi,” jelasnya.
Politisi dari Partai Golkar ini menekankan perlunya pemerintah untuk merespons situasi ini dengan serius. Mengingat bahwa perkembangan geopolitik yang tidak stabil dapat memengaruhi kestabilan ekspor dari sektor industri manufaktur Indonesia.
“Kita perlu memikirkan langkah-langkah strategis bersama dengan pemerintah dalam menghadapi situasi ini. Mengingat bahwa dinamika geopolitik global sangat memengaruhi kinerja ekspor industri manufaktur Indonesia, yang pada gilirannya dipengaruhi oleh stabilitas ekonomi global dan permintaan pasar internasional,” tutup Gandung Pardiman.




