Site icon Arkha

7,2 Persen Dokter di Indonesia Mengalami Masalah Kesehatan Jiwa yang Perlu Diperhatikan

Jakarta – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) baru-baru ini mengungkapkan hasil skrining kesehatan jiwa yang dilakukan terhadap para dokter yang akan menjalankan tugas mereka, termasuk yang terlibat dalam program pendidikan intensif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa sekitar 7,2 persen dokter mengalami kondisi kesehatan jiwa yang memerlukan perhatian dan evaluasi lebih lanjut.

Skrining ini dilaksanakan dengan menggunakan instrumen Minnesota Multiphasic Personality Inventory (MMPI), yang merupakan alat untuk menilai kondisi psikologis individu.

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengungkapkan bahwa kegiatan skrining ini merupakan bagian dari upaya untuk memastikan kesehatan jiwa dokter sebelum mereka memulai tugas pelayanan.

“Kami melakukan MMPI sebagai bagian dari skrining kesehatan jiwa bagi dokter yang akan bertugas, termasuk mereka yang terlibat dalam program pendidikan intensif,” jelas Dante saat menghadiri acara peningkatan kesadaran kesehatan mental di Jakarta pada Jumat, 4 September 2026.

Berdasarkan hasil dari skrining tersebut, diketahui bahwa 92,8 persen dokter terindikasi memiliki kondisi kesehatan mental yang baik. Sebaliknya, 7,2 persen lainnya menunjukkan tanda-tanda kondisi yang kurang baik dan membutuhkan perhatian serta evaluasi lebih lanjut.

Temuan ini menjadi perhatian serius bagi Kemenkes, terutama mengingat bahwa tenaga medis sering kali beroperasi dalam lingkungan kerja yang penuh tekanan tinggi dan tuntutan akademis yang berat.

Namun, Dante menekankan bahwa masalah kesehatan jiwa dokter tidak bisa serta-merta disimpulkan hanya sebagai dampak dari perundungan atau bullying.

Ia menyatakan bahwa tekanan yang dialami selama menjalani pendidikan kedokteran, termasuk beban studi yang dirasakan terlalu berat, juga merupakan faktor yang perlu menjadi fokus perhatian.

Oleh karena itu, Kemenkes berkomitmen untuk terus mengevaluasi sistem pendidikan kedokteran agar proses belajar dapat berlangsung dengan lebih baik dan tidak memberikan beban berlebihan kepada para peserta didik.

Dante juga mengingatkan agar masyarakat tidak terburu-buru dalam menyimpulkan bahwa kasus-kasus terkait kesehatan mental dokter, termasuk dugaan bunuh diri di kalangan peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS), disebabkan oleh perundungan.

Ia meminta agar semua pihak menunggu hasil investigasi sebelum menarik kesimpulan yang prematur mengenai akar masalah yang ada.

“Jangan segera mengaitkan hal ini dengan bullying, karena itu belum tentu benar. Mari kita evaluasi hasil investigasi untuk menemukan sumber permasalahan yang sebenarnya,” tambahnya.

Dante menegaskan bahwa hasil skrining tidak seharusnya hanya menjadi angka atau data statistik semata. Dokter yang teridentifikasi memerlukan perhatian lebih dalam hal kesehatan jiwa perlu mendapatkan tindak lanjut yang tepat agar masalah ini tidak berkembang menjadi krisis yang lebih serius.

Exit mobile version